Event

JagoanTalks #5 : Ngobrolin AI Bareng Komunitas Jagoan Ecosystem, Dari Asisten Pribadi Canggih sampai Masa Depan Manusia

Lanang Agung

May 25, 2025 · Updated: May 27, 2026 · 4 min read

Di tengah geliat kecanggihan teknologi yang semakin cepat, pertanyaan soal posisi manusia dalam dunia yang kian terdigitalisasi kerap muncul di kepala kita. Jagoan Talks, sebuah komunitas diskusi yang berbasis di Malang, kembali menggelar forum santai penuh pemikiran kritis. Dalam edisi kelima bertajuk “Walk the Talk: Benarkah Orang yang Tidak Pakai AI akan Kalah??”, komunitas ini membuktikan bahwa ngobrol soal kecerdasan buatan tak harus kaku dan berat — bisa sambil ngopi habis jalan pagi, bahkan dengan tawa-tawa renyah.

Jagoan Talks: Diskusi Santai, Topik Berat

Acara yang digelar pada Minggu pagi (25/05) ini diawali dengan kegiatan jalan sehat bersama. Setelah tubuh hangat, giliran otak yang diajak berpikir. Dua narasumber hadir untuk memberi perspektif segar: Fajar Terang Bawono, seorang arsitek sekaligus pembaca aktif buku-buku sains dan futurisme, serta Dyah Purana, content creator dan pegiat literasi populer yang kerap membahas sains di kanal YouTube-nya.

Fajar membuka diskusi dengan membedakan antara otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI). “Kalau sekadar blender bikin jus, itu automation. Tapi kalau mesin kopi bisa menyapa kita dan bilang, ‘Mas Lanang kayaknya butuh espresso hari ini,’ itu baru AI,” ungkapnya sambil bercanda.

Mengutip pemikir ternama Yuval Noah Harari, Fajar menyampaikan bahwa AI bukan sekadar alat bantu. “Automation itu hanya mengganti kerja manual. AI bisa memahami konteks dan menyarankan solusi baru — bahkan menciptakan hal yang sebelumnya belum pernah ada.”

Dari Kekhawatiran Sampai Skenario Masa Depan

Pembicara kedua, Diah Purana, membawa peserta menyelami konsep-konsep besar tentang AI dari buku Life 3.0 karya Max Tegmark. Ia menjelaskan perbedaan antara ANI (Artificial Narrow Intelligence), AGI (Artificial General Intelligence), dan ASI (Artificial Super Intelligence), serta skenario-skenario masa depan yang bisa terjadi — dari yang utopis hingga distopia.

“Salah satu skenario yang paling serem adalah ‘kebun manusia’. Di mana manusia dipelihara AI kayak kita sekarang pelihara panda di kebun binatang,” ujar Diah, yang disambut tawa dan kecemasan sekaligus dari para peserta.

Diskusi juga membahas fenomena “kutukan DNA”, yaitu naluri manusia untuk terus menciptakan teknologi — meski tahu itu bisa membahayakan dirinya sendiri. Dalam skenario terburuk, AI bukan cuma menggantikan pekerjaan manusia, tapi juga mengambil alih seluruh pengambilan keputusan, dari rumah tangga sampai perang.

Jagoan Talks #5 Bahas AI dan Realita Dunia Kerja

Ada hal yang menarik dari Jagoan Talks adalah kedekatan topik dengan realitas para pesertanya. Willy, seorang voice talent yang hadir di forum, membagikan pengalamannya ketika proyek-proyek voice over-nya digantikan oleh teknologi voice-AI seperti Eleven Labs.

“Beberapa klien luar negeri sudah memisahkan project AI-based dan human-based, dan rate-nya jelas beda. Tapi di Indonesia? Belum ada regulasi. Semua masih murah dan campur aduk,” kata Willy. Ia menekankan pentingnya regulasi untuk menjaga nilai kerja manusia di tengah gempuran AI.

Dari perspektif ini, AI bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal etika, keadilan ekonomi, dan survival profesi.

Apakah AI Akan Disembah? Pertanyaan Liar, Tapi Masuk Akal

Salah satu momen menarik dalam diskusi adalah saat seorang peserta, Angga, melempar pertanyaan: “Kalau manusia makhluk spiritual, bisa nggak suatu saat muncul ARI — Artificial Religious Intelligence?” Topik yang terdengar absurd ini justru disambut serius oleh Fajar.

“Dalam sejarah, manusia cenderung menyembah apa yang lebih kuat atau memberi manfaat. Gunung, pohon, bahkan sistem. Kalau suatu hari AI menjadi pusat keputusan, pengatur hidup, dan penyedia kebahagiaan, apa bedanya dengan ‘tuhan digital’?” ujarnya.

Pernyataan ini membuka perbincangan panjang soal batas antara kepercayaan, teknologi, dan kemanusiaan — sebuah topik yang mungkin lebih filosofis dari sekadar AI vs manusia.

Jagoan Talks: Forum yang Bukan Sekadar Wacana

Diskusi ini bukan hanya jadi tempat curhat keresahan, tapi juga jadi ruang refleksi kolektif. Para peserta bebas menyampaikan kontra, kritik, bahkan ide liar, tanpa takut disalahpahami. Justru di sinilah nilai komunitas Jagoan Talks terasa: mengedepankan literasi, etika, dan ruang tumbuh bersama.

“Setiap revolusi pasti mengorbankan sesuatu,” ujar Arif Bawono, salah satu peserta. “Dulu London harus gelap karena asap batu bara demi industri. Sekarang mungkin giliran kita berkorban demi AI.” Lanjutnya menangapi  kontra pernyataan Narasumber tentang AI Conduct.

Tapi bukannya menyerah, peserta Jagoan Talks justru melihat peluang. Diah menutup dengan tips: “Kalau pekerjaanmu melibatkan interaksi sosial, kreativitas tanpa rumus, dan lingkungan tak terduga — kamu masih aman dari AI.”. Para Audiense menjawab “Alhamdullilah!” karena mereka selamat lalu disambut gelak tawa.

Diskusi ini jadi pengingat: bahwa teknologi bukan untuk ditakuti, tapi dipahami dan disikapi dengan bijak. Dan lewat ruang-ruang seperti Jagoan Talks, kita bisa belajar bersama, bukan hanya tentang AI, tapi juga tentang diri kita sendiri.

Sumber:
Transkrip diskusi komunitas Jagoan Talks, 25 Mei 2025
Referensi buku Life 3.0 oleh Max Tegmark
Yuval Noah Harari — Sapiens, Homo Deus, Nexus
Sebagaimana dilansir dari Max Tegmark – Life 3.0

#Artificial Intelegent #Diskusi

Lanang Agung

Contributing Writer

Gaming enthusiast and content creator.

Daily news, dev blogs, and stories from Game Developer straight to your inbox

Stay up to date with the latest gaming news and insights

Subscribe